Sajak
sebelum tidur
00:30 senin, 28 Oktober 2013
Langit tersedu
menyibakkan segala sesaknya, andai ku bisa sepertinya. Hujan yang membaringkan
dirinya secara paksa di atap rumah mungkin jadi latar suara yang tepat dari
kesunyian malam ini. Salam penutup sudah jauh meninggalkan 2 jam yang lalu, dan
gadis penikmat sunyi ini masih terjaga.
Kau memang benar
kakak, aku adalah penikmat malam. diriku telah bersahabat baik dengannya, oh
iya pena dan kertas tak pernah ketinggalan meramaikan kami yang sunyi. Dinding
kamar ini adalah pendengar setia dari goresan tiap pena yang kuciptakan. Tapi
aku selalu memohon padanya agar tidak menceritakannya pada siapapun. Maafkan
aku yang membuat mereka terusik.
Maukah dengar
dongengku? Selimut ungu bergaris itu sangat peduli denganku, tapi aku lebih
memilih merangkai kata-kata ini untuk beberapa waktu kedepan. Juga
bantal-bantal itu, mereka menyayangiku, tapi sekali lagi gadis peragu ini lebih
memilih menceritakan ini hingga ia merasa tak sanggup melakukannya.
Setiap aku memulai
tidur, aku selalu merasa terjaga. Teriakan yang mengusik pikiran dan hatiku.
Mungkin ini hanya resah, pertanyaan sederhana. Sudahkah ia wudhu sebelum
memeluk mimpinya? Semoga saja percikan air itu jadi peneduh jiwanya untuk
menemui fajar. Atau pertanyaan yang lebih rumit, “apa kabarmu hari ini kakak
berkaca mata?” Pertanyaan yang kuselipkan disetiap lembar-lembaran tugas di
meja belajarku yang penuh namum teratur, yah mungkin cermin untuk pikiranku.
Pertanyaan yang mengajakku bersahabat dengan malam, menunggu mimpi untuk
menceritakan hal-hal yang kau alami hari ini. Selamat istirahat kakak, Allah SWT menjagamu.
01:17, 28 Oktober
2013
Hujan yang mereda,
semoga sama dengan perasaan ragu dan rasa bosan yang mereda, mungkin rayuan
selimut dan bantal harus kuterima. Aku juga harus siap-siap menemui adzan subuh
dan fajar beberapa jam lagi. Semoga Allah SWT selalu menjaga kita…
-NAA
Sajak Bangun Tidur
Sang fajar
terlalu tua untuk bangun pagi ketika kau telah menyibak selimut yang menemanimu
tidur semalaman. Ah tidak. Kau jarang tidur semalaman. Kau selalu tidur setelah
malam dan bangun sebelum pagi. Selalu kutanyakan “apa tidak apa-apa?” –sebuah
pertanyaan dengan terlalu banyak “apa”-dan kau selalu menjawab “ah biasa”. Tapi
kantung matamu tegas membantahnya.
Aku selalu gagal
membayangkan ekspresi lucu lantai kamarmu yang tiba-tiba terbangun ketika kau menginjaknya.
Mungkin ia masih bermimpi. Memimpikan kaki-kaki mungil yang pernah menapaknya.
Atau lantai tetanggamu yang tak pernah –tapi ingin- ditemuinya. Keinginan
bertemu adalah naluri, mungkin.
Angin subuh
sedang ingin bermain dengan tirai di dalam kamarmu. Tapi kaca jendela
tidak mengizinkannya. “Jangan
bermain-main terus” ucap kaca jendela kepada angin subuh menirukan suara ibuku.
Angin subuh memang rutin mengunjungi rumahku –mengambil titipan rindu- sebelum
terbang jauh menuju rumahmu, menyampaikannya. Angin subuh kadang lebih baik
daripada jasa pengiriman barang atau perusahaan penyedia jaringan
telekomunikasi.
Embun membonceng
angin subuh. Ia mengintip lewat celah kecil ventilasi kamarmu. Melihatmu berjalan
dengan setengah mata tertutup dan episode mimpi yang belum selesai. Menghilang
dibalik pintu. Bersegera mengambil wudhu. Kau selalu menyukai wudhu, juga
hujan. Keduanya menenangkan. Bedanya hujan selalu mengurai kenangan.
Subuh yang sunyi
terpecah. Bukan oleh kicau burung yang masih berlindung di ranting pohon mangga
dari hujan semalam, tapi oleh suara yang selalu bisa menenangkan selain wudhu
dan hujan, adzan. Suara merdu dan hening jeda diantaranya, kombinasi yang dapat
menembus pori-pori, masuk, menenggelamkan hati. Kau bersegera bermukena.
Rupanya kau penikmat hikmat dalam shalat, tidak sekedar menunaikan kewajiban.
Dan ketika untaian doa kau panjatkan, aku selalu ingin tahu ungkapan hatimu.
Tapi, ah aku bahkan belum bangun.
-RRP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar