Minggu, 03 Mei 2015

Dua Sajak yang Dipisahkan Waktu Tidur


Sajak sebelum tidur

00:30 senin, 28 Oktober 2013 

Langit tersedu menyibakkan segala sesaknya, andai ku bisa sepertinya. Hujan yang membaringkan dirinya secara paksa di atap rumah mungkin jadi latar suara yang tepat dari kesunyian malam ini. Salam penutup sudah jauh meninggalkan 2 jam yang lalu, dan gadis penikmat sunyi ini masih terjaga.
Kau memang benar kakak, aku adalah penikmat malam. diriku telah bersahabat baik dengannya, oh iya pena dan kertas tak pernah ketinggalan meramaikan kami yang sunyi. Dinding kamar ini adalah pendengar setia dari goresan tiap pena yang kuciptakan. Tapi aku selalu memohon padanya agar tidak menceritakannya pada siapapun. Maafkan aku yang membuat mereka terusik.

Maukah dengar dongengku? Selimut ungu bergaris itu sangat peduli denganku, tapi aku lebih memilih merangkai kata-kata ini untuk beberapa waktu kedepan. Juga bantal-bantal itu, mereka menyayangiku, tapi sekali lagi gadis peragu ini lebih memilih menceritakan ini hingga ia merasa tak sanggup melakukannya.
Setiap aku memulai tidur, aku selalu merasa terjaga. Teriakan yang mengusik pikiran dan hatiku. Mungkin ini hanya resah, pertanyaan sederhana. Sudahkah ia wudhu sebelum memeluk mimpinya? Semoga saja percikan air itu jadi peneduh jiwanya untuk menemui fajar. Atau pertanyaan yang lebih rumit, “apa kabarmu hari ini kakak berkaca mata?” Pertanyaan yang kuselipkan disetiap lembar-lembaran tugas di meja belajarku yang penuh namum teratur, yah mungkin cermin untuk pikiranku. Pertanyaan yang mengajakku bersahabat dengan malam, menunggu mimpi untuk menceritakan hal-hal yang kau alami hari ini. Selamat istirahat kakak,  Allah SWT menjagamu.

01:17, 28 Oktober 2013
Hujan yang mereda, semoga sama dengan perasaan ragu dan rasa bosan yang mereda, mungkin rayuan selimut dan bantal harus kuterima. Aku juga harus siap-siap menemui adzan subuh dan fajar beberapa jam lagi. Semoga Allah SWT selalu menjaga kita…

-NAA

Sajak Bangun Tidur

Sang fajar terlalu tua untuk bangun pagi ketika kau telah menyibak selimut yang menemanimu tidur semalaman. Ah tidak. Kau jarang tidur semalaman. Kau selalu tidur setelah malam dan bangun sebelum pagi. Selalu kutanyakan “apa tidak apa-apa?” –sebuah pertanyaan dengan terlalu banyak “apa”-dan kau selalu menjawab “ah biasa”. Tapi kantung matamu tegas membantahnya.
Aku selalu gagal membayangkan ekspresi lucu lantai kamarmu yang tiba-tiba terbangun ketika kau menginjaknya. Mungkin ia masih bermimpi. Memimpikan kaki-kaki mungil yang pernah menapaknya. Atau lantai tetanggamu yang tak pernah –tapi ingin- ditemuinya. Keinginan bertemu adalah naluri, mungkin.
Angin subuh sedang ingin bermain dengan tirai di dalam kamarmu. Tapi kaca jendela tidak  mengizinkannya. “Jangan bermain-main terus” ucap kaca jendela kepada angin subuh menirukan suara ibuku. Angin subuh memang rutin mengunjungi rumahku –mengambil titipan rindu- sebelum terbang jauh menuju rumahmu, menyampaikannya. Angin subuh kadang lebih baik daripada jasa pengiriman barang atau perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi.
Embun membonceng angin subuh. Ia mengintip lewat celah kecil ventilasi kamarmu. Melihatmu berjalan dengan setengah mata tertutup dan episode mimpi yang belum selesai. Menghilang dibalik pintu. Bersegera mengambil wudhu. Kau selalu menyukai wudhu, juga hujan. Keduanya menenangkan. Bedanya hujan selalu mengurai kenangan.
Subuh yang sunyi terpecah. Bukan oleh kicau burung yang masih berlindung di ranting pohon mangga dari hujan semalam, tapi oleh suara yang selalu bisa menenangkan selain wudhu dan hujan, adzan. Suara merdu dan hening jeda diantaranya, kombinasi yang dapat menembus pori-pori, masuk, menenggelamkan hati. Kau bersegera bermukena. Rupanya kau penikmat hikmat dalam shalat, tidak sekedar menunaikan kewajiban. Dan ketika untaian doa kau panjatkan, aku selalu ingin tahu ungkapan hatimu. Tapi, ah aku bahkan belum bangun.

-RRP




Tidak ada komentar:

Posting Komentar