Kamis, 29 Mei 2014

Bangun Pagi

Wajah sang fajar bersemi mengetuk pintu jendelaku ketika cahaya senja yang terakhir mengucapkan selamat tinggal di mimpiku. Pagi mencintai kicauan burung-burung yang bangun lebih pagi daripada pekerja kantoran yang selalu mengutuk pagi dan kicauan burung-burungnya. Langit merah perlahan memudar dan menyerah kepada pipi merah milik gadis kecil yang menunggu dijemput kekasihnya.

Di jalanan, sebentar lagi asap knalpot akan mengutuk dirinya sendiri karena pernah dilahirkan. Andaikan bisa mengulang waktu, ia akan meminta dilahirkan sebagai laba-laba di sudut kamarmu. Wajah yang lucu menurutnya adalah wajah yang kau suka dan benci sekaligus. Wajah bangun tidurmu.

Matahari bulan Juni selalu terlambat bangun. Ia terlalu menikmati malam alih-alih mencintai pagi. Aku juga tidak mencintai pagi. Perkara mencintai, menurutku, bukan untuk hal yang berulang seperti pagi. Namun aku mencintai senja, mungkin aku hanya mencintai perpisahan. Dan pagi ini, izinkan aku mencintai perpisahan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar