Wajah sang fajar bersemi
mengetuk pintu jendelaku ketika cahaya senja yang terakhir mengucapkan selamat
tinggal di mimpiku. Pagi mencintai kicauan burung-burung yang bangun lebih pagi
daripada pekerja kantoran yang selalu mengutuk pagi dan kicauan burung-burungnya.
Langit merah perlahan memudar dan menyerah kepada pipi merah milik gadis kecil
yang menunggu dijemput kekasihnya.
Di jalanan, sebentar lagi
asap knalpot akan mengutuk dirinya sendiri karena pernah dilahirkan. Andaikan
bisa mengulang waktu, ia akan meminta dilahirkan sebagai laba-laba di sudut
kamarmu. Wajah yang lucu menurutnya adalah wajah yang kau suka dan benci
sekaligus. Wajah bangun tidurmu.
Matahari bulan Juni
selalu terlambat bangun. Ia terlalu menikmati malam alih-alih mencintai pagi.
Aku juga tidak mencintai pagi. Perkara mencintai, menurutku, bukan untuk hal
yang berulang seperti pagi. Namun aku mencintai senja, mungkin aku hanya
mencintai perpisahan. Dan pagi ini, izinkan aku mencintai perpisahan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar