Minggu, 29 Desember 2013

Merantau

Tunas tunas harap tumbuh dikepit pamit
Air mata pisah menumbuhkannya sebagai haru
Niat baru belajar membulat
Namun selamat tinggal telah mati berkali kali

Pada Hujan yang Enggan Berhenti

hujan menjelma tangkai tangkai sajak
serangkai kata, serantai makna
pada hujan, mereka membagi bebannya

Jumat, 27 Desember 2013

Selamat Bermimpi

Bintang berdongeng pada anak-anaknya. Perkara langit yang bertahan dalam hitam dan senyuman manis sang bulan. Juga tentang manusia-manusia siang yang terlalu sibuk untuk bergurau dengan bintang.  Namun tentang gadis pencinta malam itu, ia gagal mendongengkan kenangan. Kenangan bukan untuk didongengkan,katanya. Dan bukan untuk dilupakan,  imbuhku.
Kenangan itu tentang semua yang telah pergi, juga yang kembali. Seperti senja, malam, dan mimpi. Tentang senja dan malam,aku tak perlu mengguruimu untuk mencintai mereka. Mereka adalah ibu dari puisi-puisimu. Namun tentang mimpi, ia sering pecah dan hancur menemuimu masih mencintai malam.

Kita?

Ribuan kilometer
Kita bertemu
Dalam tulisan
***
Dalam puisi
Aku menulismu
Pada malam bisu

Aku Ingin Menulis

Hari itu 10 November
Aku ingin menulis
Aku ingin menulis catatan baru mengenai perkara lama. Mengenai dongeng pengantar mimpi atau kisah yang memulai semua. Aku ingin. Aku ingat. Aku tidak bisa. Entah mengapa malam sedang tidak bersahabat dengan tombol tombol putih ini. Ia sedang berkejaran dengan ingatan di kepalaku. Malam, selalu bermain dengan kenangan. Ingatan dan kenangan, membuat malam lupa membawa kata kata.

Kabar dari Jogja

1.       Di jogja, langit sedang merindu tanah
Ia gagal menyampaikannya lewat sinar matahari dan sunyi
Karena  tanah keras, sinar matahari tidak
Dan sunyi, terlalu tiada
Dengan nyanyian guntur itu, langit lupa bahwa tanah juga tuli

Hujan dan Tanah

Aku menyukai hujan
Kau juga menyukai hujan
Hujan juga menyukaimu
Aku menyukai hujan yang menyukaimu
Tanah juga menyukai hujan
Seperti aku yang menyukai tanah
Aku menyukai tanah yang menyukai hujan yang menyukaimu