Jumat, 27 Desember 2013

Kabar dari Jogja

1.       Di jogja, langit sedang merindu tanah
Ia gagal menyampaikannya lewat sinar matahari dan sunyi
Karena  tanah keras, sinar matahari tidak
Dan sunyi, terlalu tiada
Dengan nyanyian guntur itu, langit lupa bahwa tanah juga tuli

Namun rindu selalu menemukan jalan,katanya
Dan dengan  jarak, ia melahirkan butir butir hujan,juga kenangan
Tahukah kau? Hujan yang kau sukai,menjadi hukuman bagi kota yang ramai
Menjadi ibu dari tiap klakson mobil yang meracau seperti bayi yang meminta makan
Namun hujan, tidak pernah gagal membawa penghiburan
Juga membawamu, sebagai kenangan
Bagaimana hujan di Palu?
Aku hanya ingin memastikan hujan hanya turun dari langit
Bukan dari pelupuk matamu

2.       Kami punya gunung
Dulu aku mengenalnya sebagai pembawa luka, juga duka
Gunung yang hanya menorehkan gores dan hangus
Seperti hangus di puisi ini
Kau harus mengenalnya, namanya Merapi
Gunung tua yang disalahkan karena merenggut nyawa muda
Manusia, memang penyalah paling ahli
Gunung itu sedang tidak baik akhir akhir ini
Ia menggumam, namun gagal meletus
Mungkin ia hanya ingin membagi bebannya
Seperti rindu yang gagal menjadi temu
Dan menjelma menjadi abu
Seperti abu Merapi
Namun, coba kau lihat gunung itu lebih dekat
Ia hangat memeluk awan awan yang sedang tertidur, lembut, seperti ibumu
Ia tabah menanggung letus bumi dan ketus manusia, kokoh, seperti bahu ayahmu
Oh ya, bagaimana kabar mereka?

3.       Aku mulai menyukai Jogja
Dengan hangat manusia dan dingin hujannya
Aku menyukai Jogja
Orang orangnya tidak menggaruk gatal tetangganya
Aku sangat menyukai Jogja
Namun tetap,  aku tidak bisa berhenti menyukai Palu
Seperti  puisi ini, yang tidak tahu kapan harus berhenti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar