1.
Di jogja,
langit sedang merindu tanah
Ia gagal
menyampaikannya lewat sinar matahari dan sunyi
Karena tanah keras, sinar matahari tidak
Dan sunyi,
terlalu tiada
Dengan nyanyian
guntur itu, langit lupa bahwa tanah juga tuli
Namun
rindu selalu menemukan jalan,katanya
Dan
dengan jarak, ia melahirkan butir butir
hujan,juga kenangan
Tahukah
kau? Hujan yang kau sukai,menjadi hukuman bagi kota yang ramai
Menjadi
ibu dari tiap klakson mobil yang meracau seperti bayi yang meminta makan
Namun
hujan, tidak pernah gagal membawa penghiburan
Juga
membawamu, sebagai kenangan
Bagaimana
hujan di Palu?
Aku
hanya ingin memastikan hujan hanya turun dari langit
Bukan
dari pelupuk matamu
2.
Kami punya
gunung
Dulu aku
mengenalnya sebagai pembawa luka, juga duka
Gunung
yang hanya menorehkan gores dan hangus
Seperti
hangus di puisi ini
Kau
harus mengenalnya, namanya Merapi
Gunung
tua yang disalahkan karena merenggut nyawa muda
Manusia,
memang penyalah paling ahli
Gunung
itu sedang tidak baik akhir akhir ini
Ia menggumam,
namun gagal meletus
Mungkin
ia hanya ingin membagi bebannya
Seperti
rindu yang gagal menjadi temu
Dan
menjelma menjadi abu
Seperti
abu Merapi
Namun, coba
kau lihat gunung itu lebih dekat
Ia
hangat memeluk awan awan yang sedang tertidur, lembut, seperti ibumu
Ia tabah
menanggung letus bumi dan ketus manusia, kokoh, seperti bahu ayahmu
Oh ya,
bagaimana kabar mereka?
3.
Aku mulai
menyukai Jogja
Dengan
hangat manusia dan dingin hujannya
Aku
menyukai Jogja
Orang
orangnya tidak menggaruk gatal tetangganya
Aku
sangat menyukai Jogja
Namun
tetap, aku tidak bisa berhenti menyukai
Palu
Seperti puisi ini, yang tidak tahu kapan harus
berhenti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar