Jumat, 27 Desember 2013

Selamat Bermimpi

Bintang berdongeng pada anak-anaknya. Perkara langit yang bertahan dalam hitam dan senyuman manis sang bulan. Juga tentang manusia-manusia siang yang terlalu sibuk untuk bergurau dengan bintang.  Namun tentang gadis pencinta malam itu, ia gagal mendongengkan kenangan. Kenangan bukan untuk didongengkan,katanya. Dan bukan untuk dilupakan,  imbuhku.
Kenangan itu tentang semua yang telah pergi, juga yang kembali. Seperti senja, malam, dan mimpi. Tentang senja dan malam,aku tak perlu mengguruimu untuk mencintai mereka. Mereka adalah ibu dari puisi-puisimu. Namun tentang mimpi, ia sering pecah dan hancur menemuimu masih mencintai malam.

Aku sering bertanya-tanya, bagaimana malam merayumu melebihi selimut dan bantal-bantal itu? Aku masih belum yakin, entah kau terlalu mencintai malam atau hanya tak mau menemui mimpi lebih awal. Atau kau sedang marah pada mimpi? Mimpi-mimpi yang memberimu kado berbungkus bunga-bunga pengharapan namun berisi duri-duri kepalsuan. Mimpi memang selalu begitu, kecuali kau menumbuhkannya sebagai kenyataan.
Malam sudah terlalu tua. Ia ingin menitipkanmu kepada mimpi sementara ia menimang cucu-cucu bintang. Kau selalu menolak. Namun kelopak matamu menyetujui malam, semoga. Mimpi akan menyambutmu sebagai gadis yang ingin ditemuinya. Kau memang mirip dengan mantan kekasihnya.
Sementara kau bermimpi, aku masih disini. Menatap layar putih bertuliskan kata-kata. Bukan kata-kata tentang rindu lagi, seperti malam kepada pagi. Lebih dari itu, aku ingin merangkai kata-kata ini menjadi bunga-bunga doa pengantar mimpi indah di tidurmu yang lelap. Selamat tidur, selamat bermimpi , Allah SWT melindungimu. Semoga juga “kita”. Dan habis, aku berterimakasih kepada selimut ungu bergaris.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar