Bintang berdongeng pada anak-anaknya. Perkara langit yang
bertahan dalam hitam dan senyuman manis sang bulan. Juga tentang
manusia-manusia siang yang terlalu sibuk untuk bergurau dengan bintang. Namun tentang gadis pencinta malam itu, ia
gagal mendongengkan kenangan. Kenangan bukan untuk didongengkan,katanya. Dan
bukan untuk dilupakan, imbuhku.
Kenangan itu tentang semua yang telah pergi, juga yang
kembali. Seperti senja, malam, dan mimpi. Tentang senja dan malam,aku tak perlu
mengguruimu untuk mencintai mereka. Mereka adalah ibu dari puisi-puisimu. Namun
tentang mimpi, ia sering pecah dan hancur menemuimu masih mencintai malam.
Aku sering bertanya-tanya, bagaimana malam merayumu melebihi
selimut dan bantal-bantal itu? Aku masih belum yakin, entah kau terlalu
mencintai malam atau hanya tak mau menemui mimpi lebih awal. Atau kau sedang
marah pada mimpi? Mimpi-mimpi yang memberimu kado berbungkus bunga-bunga
pengharapan namun berisi duri-duri kepalsuan. Mimpi memang selalu begitu,
kecuali kau menumbuhkannya sebagai kenyataan.
Malam sudah terlalu tua. Ia ingin menitipkanmu kepada mimpi
sementara ia menimang cucu-cucu bintang. Kau selalu menolak. Namun kelopak
matamu menyetujui malam, semoga. Mimpi akan menyambutmu sebagai gadis yang
ingin ditemuinya. Kau memang mirip dengan mantan kekasihnya.
Sementara kau bermimpi, aku masih disini. Menatap layar
putih bertuliskan kata-kata. Bukan kata-kata tentang rindu lagi, seperti malam
kepada pagi. Lebih dari itu, aku ingin merangkai kata-kata ini menjadi
bunga-bunga doa pengantar mimpi indah di tidurmu yang lelap. Selamat tidur,
selamat bermimpi , Allah SWT melindungimu. Semoga juga “kita”. Dan habis, aku
berterimakasih kepada selimut ungu bergaris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar